Harusnya hari ini berbahagia. Harusnya hari ini seperti keluarga-keluarga lain merayakan hari raya dengan kegembiraan……….
Tapi dari kemaren hanya kesedihan yang kurasakan…..
Cape rasanya selalu berpura-pura bahagia padahal hanya kesedihan seperti ini yang kualami. Semua dianggap selalu kesalahanku dan wajar rasanya aku diperlakukan seperti ini. Kesedihan demi kesedihan. Seperti sudah tak ada cinta dan sayang lagi diantara kami.
Kesakitan dan kesakitan. Kata demi kata menusuk hati terus menggoreskan luka sampai berdarah-darah. Sepertinya kemaren sudah kuolesi betadine, tapi ternyata lukanya susah sekali mengering.
Kalau memang sudah tak ada cinta dan sayang lagi…… mungkin lebih baik keluarga ini cepat saja diakhiri. Daripada setiap hari hanya saling melempar kata-kata menyakitkan yang akhirnya menjadi semakin kacau karena mengungkit-ungkit luka lama. Selalu dia bilang : ” loh dulu kmu juga memperlakukan aku seperti ini.” Kenapa sih dia selalu merasa aku injak-injak, padahal dia loh ga pernah menyadari apa yang sudah dilakukan dan dia katakan kepadaku yang menyakiti hatiku.
Wajar loh aku marah, adiknya memaki aku sambil menunjuk-nunjuk bilang kami kumpul kebo. Wajar loh aku marah karena diperlakukan seperti itu. Memang di dalam islam nikah siri tidak sah ta??? kalau memang tidak sah kenapa suami mengajak nikah siri dulu sampai uang terkumpul baru disahkan? Kenapa si adik tak tau diri bahwa kakaknya tidak punya uang untuk mensahkan pernikahannya denganku? dan tidak tahukah, untuk menempuh nikah siri itu aku harus pindah agama islam dan apa saja yang sudah aku korbankan? Aku dibuang keluargaku demi bisa menikah walaupun nikah siri? Tak sadarkah berapa banyak yang kehilangkan demi hidup seperti ini yang kukira bakal bahagia ternyata hanya kesakitan dan kesakitan seperti ini.
Aku hanya ingin bahagia. Aku hanya ingin merasa bahagia. Tapi kebahagiaan yang kukejar sehingga mengorbankan segalanya malah tak kuraih. Tangis dan kesedihan seperti ini entah sampai kapan kuat kutanggung. Rasa sia-sia seperti ini sampai kapan akan berakhir.
Rasanya ingin saat ini juga kuakhiri. Tapi bagaimana anakku? Dia bilang ” walau merasa sedih dimarahi atau merasa sakit tapi dia tak ingin kehilangan papa. Dia tak ingin hidup sebagai anak yang tak punya papa.”
Berarti aku hanya bisa bertahan. Demi anakku dan berharap keadaan membaik. Tapi entahlah. Seperti jauh dari harapan semuanya. Apa aku jalani saja kehidupanku seperti robot yang tak punya hati. Disuruh bergerak ya bergerak. Disetel kewajiban apa saja yang harus dikerjakan ya dikerjakan. Apa lebih baik aku hidup seperti itu sajakah sampai aku benar-benar ga kuat lagi menanggung semua ini.
Cinta semu saja ternyata yang ditawarkannya kepadaku. Cinta yang hanya bertahan 4 tahun setelah itu buyar semuanya. Cinta yang lebih mementingkan keluarganya sendiri tanpa peduli perasaan istrinya. Cinta yang bagaimana seperti ini????
Entah bagaimana perasaanku saat ini. Aku sendiri sudah tak mengerti lagi. Harapanku akan cinta yang indah semuanya hilang dari bayangan. Kemewahan hidup kutinggalkan demi bersamanya. Keluargaku pun kutinggalkan demi meraih cinta yang dia tawarkan. Tapi kenyataannya hanya seperti ini yang kuperoleh. Materi tidak, cinta juga tidak. Air mata, air mata dan terus air mata. Kesedihan, kesedihan dan terus kesedihan. Rasa sakit yang tidak kunjung sembuh-sembuh dalam hati. Mengendap perlahan-lahan dan berkarang dalam dada…. sampai rasanya sakiiit sekali.
Bertahan demi anakku yang kucintai. Anak yang akhirnya hanya menjadi sandaranku saat kesedihan sudah tak tertahankan. Anak kelas 3 SD yang akhirnya juga ikut menanggung semua ini hanya demi mendapatkan status “punya seorang ayah”
Anak kelas 3 SD yang kadang-kadang menjadi limpahan kekesalan. Anak kelas 3 SD yang walau menangis sesegukkan karena merasa sudah tak disayang tapi tetap berusaha ceria. Perkembangan yang bagaimana kah nantinya anakku ini akibat mengalami ini semua???
Atau kuakhiri saja semua ini. Toh hidup sekarang sudah tak berarti lagi bagiku. Sudah tak ada lagi kebahagiaan yang ku kejar saat ini. Karena kebahagiaan yang kuharapkan akan kudapat dulu itu ternyata hanya semu saja. Kebahagiaan semu inilah yang kuperoleh dari pengorbananku selama ini.
Benar-benar hidup sudah tak berharga lagi. Aku harus bagaimana? Keluarga macam apakah yang ingin kuraih dengan keadaan keluarga seperti ini????
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sepertinya Tuhan pun telah menyerah untuk membantuku.